
Kerusuhan Suporter. TEMPO/Fahmi Ali
TEMPO.CO , Jakarta: Bentrokan antarpendukung klub sepak bola masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua pihak yang terlibat didalamnya. Insiden terakhir perkelahian di level pendukung klub terjadi ketika pertandingan Persis Solo melawan Martapura FC, Oktober lalu, dalam babak delapan besar di Divisi Utama Liga Super Indonesia 2014.
Tak puas dengan kepemimpinan wasit, pendukung tuan rumah yang dikenal dengan sebutan Pasoepati bertindak anarkistis yang berujung kepada bentrokan dengan polisi. Satu nyawa akhirnya melayang. Kementerian Pemuda dan Olahraga lantas angkat bicara ihwal insiden itu. Menpora Imam Nahrawi mengatakan, ke depan kepolisian harus bertindak tegas kepada setiap pihak yang mengganggu jalannya pertandingan.(Baca: Buat Onar di Jalan Tol Simatupang, 6 Suporter Bola Diperiksa)
"Di dalam stadion menjadi tanggung jawab pengelola pertandingan. Tapi, kalau di luar sudah menjadi tanggung jawab semuanya, khususnya polisi," kata Imam di Kantor Kemenpora, Selasa, 11 November 2014. Masalah bentrokan antarsuporter sendiri belakangan ini sedang menjadi perhatian Menteri Imam.
Ia menyatakan sedang mendalami persoalan itu agar ke depan bisa menghasilkan kebijakan yang tertuang dalam sebuah aturan. Menurut Imam, penyelesaian di tingkat elit lebih mudah diselesaikan. Namun, yang menjadi masalah ialah membawa penyelesaian damai ke tingkat akar rumput. "Kami sedang cari regulasinya seperti apa," ucap Imam.
Pada kesempatan terpisah, Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, Joko Driyono, menyambut baik upaya Menteri Imam yang ingin ambil bagian dalam penyelesaian konflik antarsuporter. "Ini angin segar yang sudah lama kami tunggu," kata Joko. Di banyak negara, lanjut dia, pemerintah memang bisa terlibat untuk mengatasi persoalan yang terjadi di olahraga sepak bola.
Namun, sebelum mengeluarkan sebuah kebijakan, kata Joko, ada baiknya pemerintah mengurai persoalan yang sebenarnya. Pasalnya, hubungan antara pendukung dengan klub tidak bersifat struktural. "Mereka punya kedekatan secara psikologis. Jadi, tidak bisa diperintah," ucap Joko.
Salah satu solusi yang sudah dilakukan oleh PSSI untuk menghukum tindak kekerasan atau pelanggaran di level pendukung ialah menerapkan hukuman komunitas. "Saya rasa itu hukuman terbaik. Ada dampaknya dan kami juga bisa mengukur tingkat kesadaran suporter," tutur Joko.
Hukuman yang diserahkan ke komunitas dan klub sudah dilakukan oleh Komisi Disiplin PSSI ketika pendukung Arema Cronus menyalakan suar (flare) di Stadion Kanjuruhan, Malang. Sebagai hukumannya, Arema tidak membayar denda berupa uang, tetapi harus mencari pelaku yang menyalakan suar. Padahal dalam aturannya, klub harus membayar sejumlah uang jika ketahuan membakar suar di stadion.
ADITYA BUDIMAN
Berita Lain
Soal Cedera, Falcao Mencak-mencak di Twitter
Indonesia Kalahkan Timor Leste 4-0
Gerrard-Liverpool Bahas Kontrak Baru Minggu Ini
Lawan Spanyol, Jerman Kehilangan Marco Reus









No comments:
Post a Comment